Rabu, 01 Juni 2011

Kisah orang tua bijak


 ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja mengingikan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat. Orang-orang menawarkan  harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak: “kuda ini bukan kuda bagi kuda bagi saya”, katanya: “ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat? Orang itu miskin dan godaan besar, tetapi ia tidak menjual kuda itu.
          Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada dikandangnya. Seluruh penduduk desa datang menemuinya. “orang tua yang bodoh” mereka mengejek dia: “sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan kau akan dirampok. Anda begitu miskin, mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh mnt harga berapa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan”. Orang tua itu menjawab: “jangan bicara terlalu cepat, katakan saja kuda itu tidak berada dikandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya dikutuk atau tidak, bagaimana kalian dapat ketahui itu? Bagaimana kalian dapat menghakimi?” orang-orang desa itu protes: “jangan menggambarkan kami orang sebagai  bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak diperlukan. Fakta sederhana bahwa kuda hilang adalah kutukan”. Orang tua itu berbicaara lagi: “yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi, selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu yang akan terjadi nanti?. Orang-orang tertawa. menurut mereka orang tua itu gila. Mereka memang selalu menganggap orang tolol; kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang mereka sudah membuktikan bahwa ia betul-betul orang yang tolol.
          Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia lari kedalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul disekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan: “orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat, maafkan kami”. Jawab orang tua itu: “ sekali lagi kalian bertindak gegabah, katakan saja bahwa kuda itu sudah kembali. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menghakimi. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat ? kalian hanya melihat sepotong saja, kecuali kalau  kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan?  Apakah kalian mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu kuas, namun kalian menilai seluruh hidup berdasarkan satu kejadian atau satu peristiwa! Yang kalian tahu hanyalah sepotong.
          “barangkali orang tua itu benar “, mereka berkata satu sama lain. Jadi mereka tidak banyak bicara. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah . mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian binatang itu dijual untuk menghasilkan banyak uang.
          Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda itu dan kedua kakinya patah. Sekali lagi penduduk desa berkumpul disekitar orang tua itu dan menilai. “kamu benar, kata mereka: “kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkat, mereka adalah kutukan, satu-satunya putramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak punya siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi. lalu orang tua itu menjawab: “ya, kalian kesetanan dengan pikiran kalian untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya ppatah kaki. Siapa tahu itu berkat atau bukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong.
          Maka terjadilah setelah dua minggu kemudian, negeri itu terjadi peperangan dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua itu tidak diminta karena ia terluka. Sekali lagi orang-orang berkumpul disekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali. “kamu benar, orang tua”, mereka mengangis: “Tuhan tahu, kamu benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Sedangkan anak-anak kami pergi untuk selamanya”. Kemudian orang tua itu menjawab: “tidak mungkin berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu.katakan hanya ini: “anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan.tdk ada yang cukup bijaksan untuk mengetahuinya. Hanya Allah yang maha mengetahui.

Renungan:

Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari sebuah buku yang besar. Bagaimana mungkin kita dapat menarik kesimpulan jika kita hanya membaca satu halaman.
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar